Di Antara Lumpur, Air Mata, dan Uluran Tangan dari Seberang Negeri

Oleh: Zulkifli Aneuk Syuhada
Sekretaris Gampong Pante Rambong

Aceh Timur, WartaGayo.com– Ada hari-hari yang tidak pernah kami bayangkan akan kami lalui. Hari ketika pagi tidak lagi diawali dengan langkah menuju kebun, suara anak-anak bersiap ke sekolah, atau aroma kopi di dapur. Yang tersisa hanyalah air, lumpur, dan rasa takut yang tidak terucap.

Banjir datang ke Gampong Pante Rambong bukan sekadar membawa air. Ia membawa pergi kenangan, kerja keras bertahun-tahun, dan rasa aman yang selama ini kami jaga. Rumah-rumah terendam, perabot hanyut, ladang rusak. Sebagian warga hanya sempat menyelamatkan pakaian di badan. Selebihnya, kami pasrah pada arus.

Sebagai Sekretaris Gampong, saya menyaksikan sendiri bagaimana warga menangis dalam diam. Ada ibu-ibu yang memeluk anaknya sambil bertanya, “Besok kita makan apa?” Ada orang tua yang duduk termenung menatap rumahnya yang tak lagi bisa ditempati. Tangisan itu sering kali tertahan, karena kami orang kampung—terbiasa kuat, meski hati rapuh.

Baca Juga Artikel Berita nya  Cerak-cerak WGC, Begini Tip Dapat LoA dan Kelebihan Kuliah di Malaysia Menurut Akademisi Dr. apt. Vesara Ardhe Gatera

Hari-hari di pengungsian terasa sangat panjang. Malam dingin, tubuh lelah, dan pikiran penuh kecemasan. Dalam kondisi seperti itu, yang paling menyakitkan bukan hanya lapar, tetapi perasaan ditinggalkan. Perasaan bahwa musibah ini terlalu sunyi untuk ditanggung sendiri.

Namun di tengah kelelahan dan keputusasaan itu, Allah menghadirkan cahaya dari arah yang tidak kami duga.

Dari seberang negeri, dari Malaysia, datang kepedulian yang begitu tulus. Cek Kamarul—seseorang yang tidak pernah tinggal di gampong kami, tidak pernah merasakan banjir di Pante Rambong—dengan ikhlas menyisihkan sebagian hartanya untuk dapur umum korban banjir. Bantuan itu menghidupkan dapur yang hampir padam, menghangatkan perut para pengungsi, dan yang paling penting: menguatkan hati kami yang hampir menyerah.

Mungkin bagi sebagian orang, sepiring nasi adalah hal biasa. Tapi bagi kami yang sedang diuji, sepiring nasi hangat adalah tanda bahwa kami masih dianggap ada.

Baca Juga Artikel Berita nya  Hari Ke-2 Pasar Murah Di Aceh Tengah menjelang Ramadhan Kepolisian Berikan Pengamanan

Tidak berhenti di situ, Cek Kamarul juga memfasilitasi zakat dari Encik Razif Razak. Zakat itu disalurkan kepada 18 kepala keluarga korban banjir di Gampong Pante Rambong. Saya melihat langsung bagaimana tangan-tangan gemetar menerima bantuan itu. Ada yang menunduk lama, ada yang meneteskan air mata tanpa suara. Zakat itu bukan hanya membantu kebutuhan hidup, tetapi memulihkan harga diri mereka yang nyaris runtuh oleh keadaan.

Kami juga menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Puan Aznyda binti Yakub dari Putrajaya, Malaysia. Kepedulian beliau menjadi bukti bahwa rasa kemanusiaan tidak membutuhkan kedekatan geografis. Cukup hati yang peka, dan niat yang ikhlas.

Di saat sebagian dari kami bertanya-tanya ke mana harus mengadu, uluran tangan dari saudara-saudara kami di Malaysia justru datang tanpa diminta. Tanpa kamera, tanpa panggung, tanpa janji apa pun. Hanya kemanusiaan yang berjalan sendiri, mencari mereka yang sedang terluka.

Baca Juga Artikel Berita nya  Beberapa Hari Lagi Penjeblosan Dukungan Masyarakat Terus Mengalir Pada Sosok Ir.H.Nasaruddin,MM.

Hari ini, banjir mungkin mulai surut. Tapi luka batin masyarakat belum sepenuhnya kering. Masih ada rumah yang hancur, masih ada keluarga yang belum tahu bagaimana memulai kembali hidup mereka. Namun satu hal yang pasti: kami tidak lagi merasa sendirian.

Dari lumpur yang mengering di kaki kami, dari air mata yang masih sering jatuh di malam hari, kami ingin mengatakan terima kasih. Terima kasih karena telah melihat kami sebagai manusia. Terima kasih karena telah menguatkan kami di saat paling lemah.

Semoga setiap rupiah yang diberikan, setiap niat baik yang dititipkan, menjadi amal jariah yang tak pernah putus. Dan semoga suatu hari nanti, jika saudara-saudara kami dari Malaysia menginjakkan kaki di Pante Rambong, kami dapat menyambut dengan senyum—bukan sebagai korban banjir, tetapi sebagai saudara yang pernah diselamatkan oleh kasih sayang mereka.