Mahasiswa PKKPM IAIN Takengon Jadi Khatib dan Imam Jumat di Masjid Baitul Hamdi Pantan Nangka

Pantan Nangka, Linge, Aceh Tengah —wartagayo.com

11 September 2026. Suasana Jumat di Masjid Baitul Hamdi, Kampung Pantan Nangka, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, berlangsung khidmat dengan kehadiran mahasiswa PKKPM Gelombang II IAIN Takengon yang turut mengambil peran dalam kegiatan keagamaan masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, **Afdhalul Rizky**, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Takengon sekaligus Ketua Kelompok PKKPM Gelombang II Desa Pantan Nangka, dipercaya untuk menjadi **khatib sekaligus imam salat Jumat**.

Kepercayaan tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan peserta PKKPM dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat selama menjalankan pengabdian di Kampung Pantan Nangka.

Khutbah Jumat: Menguatkan Ketakwaan dan Rasa Syukur

Dalam khutbahnya, Afdhalul Rizky mengawali penyampaian dengan mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Pesan khutbah dibangun dari sebuah pengingat mendasar bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari tujuan penciptaannya. Manusia dan jin diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. Karena itu, kehidupan tidak semata-mata tentang mengejar dunia, tetapi juga tentang bagaimana setiap aktivitas yang dilakukan dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ia mengingatkan bahwa ketakwaan bukan hanya terlihat dalam pelaksanaan ibadah secara lahiriah, tetapi juga tercermin melalui sikap, perkataan, cara memperlakukan sesama, serta kesadaran bahwa setiap nikmat yang dimiliki merupakan pemberian Allah SWT.

Baca Juga Artikel Berita nya  Proyek Rehabilitasi SMKN 1 Takengon Diduga Langgar Aturan: Tanpa Papan Informasi, Pekerja Abai K3

Dalam suasana khutbah yang tenang, jamaah diajak untuk kembali melihat berbagai nikmat yang sering kali dianggap biasa.

Kesehatan, kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, rezeki, keamanan, waktu, serta kesempatan untuk beribadah merupakan nikmat yang tidak selalu disadari nilainya.

Rasa syukur kemudian menjadi salah satu pesan utama yang ditekankan. Bersyukur bukan sekadar mengucapkan *Alhamdulillah*, tetapi juga menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk sesuatu yang baik dan diridai-Nya.

Afdhalul juga mengingatkan jamaah agar tidak menunggu kehilangan sebuah nikmat untuk menyadari betapa berharganya nikmat tersebut.

Ketakwaan sebagai Bekal Kehidupan

Dalam bagian berikutnya, khutbah mengajak jamaah untuk memahami bahwa ketakwaan merupakan bekal utama dalam menjalani kehidupan.

Manusia dapat merencanakan masa depan, mengejar pendidikan, mencari rezeki dan membangun kehidupan yang lebih baik. Namun, di atas seluruh ikhtiar tersebut terdapat kewajiban untuk tetap menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Ketakwaan juga menjadi landasan dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat.

Seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk baik dalam hubungannya dengan Allah, tetapi juga harus mampu menjaga hubungan dengan sesama manusia. Menjaga lisan, menghormati orang tua, membantu sesama, menjaga amanah, menjauhi permusuhan dan tidak menyakiti orang lain merupakan bagian dari implementasi ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga Artikel Berita nya  Safari Subuh Bersama Rektor IAIN, Kapolres Aceh Tengah : Ajak Jaga Silaturahmi Dan Sukseskan Pilkada Damai

Khutbah kemudian ditutup dengan ajakan agar jamaah menjadikan momentum Jumat sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi diri.

Bukan hanya bertanya tentang apa yang telah diperoleh selama hidup, tetapi juga tentang apa yang telah dilakukan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

Menjadi Imam Salat Jumat

Setelah khutbah selesai, Afdhalul Rizky kemudian melanjutkan tugasnya sebagai **imam salat Jumat**.

Dalam rakaat pertama, ia membacakan **Surah Al-A’la**, yang mengingatkan manusia untuk menyucikan dan mengagungkan nama Allah serta menyadari kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Bacaan tersebut menghadirkan suasana salat yang khidmat, sejalan dengan pesan khutbah mengenai ketakwaan, rasa syukur dan kesadaran seorang hamba terhadap kebesaran Allah SWT.

Pada rakaat kedua, salat dilanjutkan dengan bacaan **Surah Al-Kahfi**, salah satu surah yang memiliki kedudukan istimewa dalam amalan umat Islam, khususnya pada hari Jumat.

Rangkaian salat kemudian diselesaikan dengan doa dan salam, menandai berakhirnya pelaksanaan salat Jumat dalam suasana yang penuh ketenangan dan kekhusyukan.

Bagian dari Pengabdian Mahasiswa

Keterlibatan Afdhalul Rizky sebagai khatib dan imam menjadi salah satu bentuk nyata bahwa kegiatan PKKPM tidak hanya berorientasi pada program kerja formal, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk *berinteraksi, berkontribusi dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat*.

Baca Juga Artikel Berita nya  Adong linge menekankan dan memohon jangan masyarakat kecil yang jadi korban gara gara tambang ini.

Sebagai mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam, keterlibatan dalam kegiatan keagamaan juga menjadi pengalaman penting dalam mengimplementasikan nilai-nilai keislaman, komunikasi dan pembinaan masyarakat secara langsung.

Kepercayaan yang diberikan masyarakat Kampung Pantan Nangka juga mencerminkan terjalinnya hubungan yang semakin dekat antara peserta PKKPM dengan masyarakat setempat.

Sejak awal kedatangan, peserta PKKPM Gelombang II IAIN Takengon di Desa Pantan Nangka terus berupaya membangun komunikasi dan silaturahmi dengan aparatur kampung, tokoh agama, pemuda-pemudi serta masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, keberadaan mahasiswa diharapkan tidak hanya meninggalkan program, tetapi juga menghadirkan *silaturahmi, pengalaman, keteladanan dan kontribusi yang dapat dirasakan oleh masyarakat*.

Pelaksanaan salat Jumat di Masjid Baitul Hamdi pada Jumat, 11 September 2026, menjadi salah satu bagian dari perjalanan pengabdian tersebut—ketika ruang masjid menjadi tempat mahasiswa dan masyarakat bertemu dalam satu barisan, satu ibadah dan satu tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

*Penulis: Qaswafif Muda*